Kamis, 02 Juli 2020

Berkunjung ke Tugu Legetang, Mengenang Peristiwa 1955




Jika kamu jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng, cobalah mampir sebentar ke Dukuh Legetang. Apa dan bagaimana Dukuh Legetang itu? Kalau belum pernah, ada baiknya simak dan ikuti jalan-jalannya cerita_dwyra ke sana.
**




Sebenarnya, kemarin hari, saya cuma berniat jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng. Setelah jalur baru via Bintoro (yang kebetulan dekat rumah saya) dibuka, jarak rumah saya ke Dieng hanya sekitar 2 jam perjalanan naik motor. Dengan catatan, motor dan pengemudinya harus dalam kondisi sehat ya! Sebab, medan yang ditempuh itu agak ekstrem, terjal, dan berbelok-belok sampai serasa 90°, Gaes. Serius! (Eh, nggak ding! Intinya, tanjakannya lumayan bikin pegel). Itu juga harus sering-sering dinginkan rem. Kalau tidak, wah …! Tapi, jangan khawatir. Kalau pergi berboncengan dan motornya nggak kuat, di titik-titik tertentu (khususnya jalan paling terjal) ada sejumlah tukang ojek siap mengantar sampai ke medan yang aman. Ongkosnya? Seikhlasnya saja kok.


Gambar: medan perjalanan jalur Bintoro, Bawang

Eh, kok jadi ceritanya putar haluan? Hehe. Ya, udah. Dilanjut lagi, ya.


Gambar: pemandangan di area Gardu Pandang Bukit Derikan, Kec. Bawang, Kab. Batang

Kebetulan saya pergi berdua sama suami. Untungnya cuaca lagi baik karena kebetulan saya lupa bawa jas hujan. Biasanya, kalau siang sampai sore sering hujan, memang daerah Bawang (Kab. Batang) dan sekitarnya termasuk bercurah hujan tinggi. Eh, ternyata sampai Dieng beberapa area masih ditutup. Yah, emang salah sendiri sih. Masih suasana penyesuaian new normal malah jalan-jalan ke tempat wisata. Jadilah kami mencari lokasi alternatif lain. Berdiskusi beberapa menit, kami teringat pernah membaca sebuah artikel yang membahas Pompeii-nya Indonesia. Tahu, kan Pompeii itu apa? Yap, Pompeii kota megah yang hilang pasca meletusnya Gunung Vesuvius, Eropa. Nah, Pompeii-nya Indonesia kebetulan berada tak jauh dari Dieng. Kami juga mendengar beberapa kisah yang sama tentang dukuh itu dari tetangga. Kami kemudian sepakat untuk mencari lokasinya.
Sebagai langkah pertama, kami pakai cara klasik, apa lagi kalau bukan bantuan Google Map (haha) dengan masukin password seperti kedengarannya: Legetan. Eh, ternyata salah! Legetan ini adanya di daerah Magelang. Begitulah nasibnya kalau cuma ngandalin telinga sama ingatan doang. Setelah adu argumen alot berjam-jam (?!), akhirnya saya putuskan googling deh sejarah desa yang hilang (mbok dari tadi kek!). Barulah kami tahu, nama tempatnya adalah Dukuh Legetang, bukan Legetan. 
Singkatnya, di Google Map, nama yang muncul adalah Tugu Legetang (wah, sudah dibuat tugu juga ternyata). Jaraknya kurang lebih cuma 3 km dari Kawah Sileri. Deket juga. Jadi meluncurlah kami ke sana.

                            Gambar: Keterangan yang muncul via Google Map

**
Dukuh Legetang letaknya berdekatan dengan Gunung Pengamun-amun yang masih merupakan kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kalau saya lihat sih, lokasinya dikepung beberapa bukit yang cukup besar. Menurut data (juga menurut cerita orang), pada tahun 1955, tepatnya tanggal 16-17 April, area tersebut mengalami hujan sangat deras. Derasnya hujan menyebabkan Gunung Pengamun-amun longsor dan serta merta menimbun seluruh wilayah Dukuh Legetang dalam waktu semalam. Jumlah korban kurang lebih 332 orang, serta 19 tamu yang berasal dari lain desa. Karena terbatasnya sarana dan prasarana pada waktu itu, penanganan korban bencana juga menjadi lambat. (serem juga, ya?)
Selain sejarah gunung yang longsor, terdapat pula kisah lain mengiringi peristiwa kelam Dukuh Legetang. Konon, Dukuh Legetang dianugerahi tanah yang subur, beberapa kali lebih subur dari desa lain. Panen yang dihasilkan dari pertanian pun berkali-kali lebih banyak dari tempat lain. Jadi, tidak heran juga kalau kemudian penduduknya menjadi makmur dan relatif kaya. Sayangnya, anugerah tersebut tidak diiringi rasa syukur. Bahkan, mereka menggunakan kekayaan untuk perbuatan buruk. Ma Lima (istilah Jawa untuk 5 kemaksiatan) sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Bahkan, konon tempat ibadah juga digunakan untuk judi dan mabuk. Jadi, warga lokal sering mengatakan bahwa longsornya Gunung Pengamun-amun ke Dukuh Legetang tak lain adalah azab karena perbuatan mereka sendiri. Wallahu a’lam.
Sebagai peringatan atas peristiwa yang menimpa Dukuh Legetang, pemerintah membuat tugu beton dan prasasti di atas tanah lokasi bekas longsoran tersebut. Sampai sekarang, Dukuh Legetang dikenal orang sebagai desa yang hilang.

                           Gambar: Tugu Legetang

Di luar sejarah tragisnya di masa lalu, Dukuh Legetang memiliki panorama sangat indah dan dapat dinikmati oleh para petualang dan pencinta alam. Berikut ini foto-foto yang sempat saya ambil. Maaf, resolusi terbatas karena pakai kamera ponsel. Happy traveling!












Referensi:
 https://www.liputan6.com/global/read/3009902/fakta-vs-kisah-mistis-dusun-di-dieng-yang-lenyap-dalam-semalam

4 komentar: