Adalah Adonara, sebuah pulau yang
terletak di sebelah timur Flores, di mana pernah terdapat Persekutuan Watan
Lema yang melegenda ratusan tahun silam. Pantai-pantainya yang konon seindah
surga; seperti Watotena, Sagu, Mekko, Bani, dan lain-lain, selalu
melambai-lambai, menggoda manusia di daratan untuk mengecup bibir menawannya.
Tapi, bukan itu yang kukenangkan dari Pulau Bunga nan termasyhur. Melainkan,
tentang seorang lelaki, yang pernah menorehkan sebuah kisah dalam hidupku.
Lelaki yang entah karena alasan apa ia pergi, meninggalkan serbuk endapan dalam
cangkir kopi hidupku. Hingga akhirnya, kisahnya membawaku kepada sisi lain
dirinya, Adonara.
*
"Sil..."
"Mmm." Acuh tak acuh
kujawab panggilannya, teman satu bangku
"Betul kau mau cari lelaki
Adonara itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau bahkan tak tahu di mana
Adonara itu, kan?"
Aku terdiam. Memang benar, tapi...
Nela menatapku iba.
"Sebetulnya, apa sih yang ingin kau cari? Padahal Raffa entah masih
memikirkanmu."
"Entahlah." Aku menopang
dagu sambil menerawang.
Sebulan lalu, Raffa kembali ke
negerinya --- Adonara, dengan alasan mudik. Tapi, setelahnya tak ada kabar yang
pasti. Karena ia tak pernah lagi kembali. Sedang, tak ada seorang pun yang
mesti kutanya tentang dirinya. Ia juga tak pernah mengirim pesan apa pun
untukku.
Tinggal alamat saja yang kini tersisa.
Itu pun kudapat dengan sedikit rayuan gombal pada seorang pegawai tata usaha
sekolah untuk menyelakan sedikit waktu di antara kesibukan demi mencarikan
sebuah alamat dari arsip data siswa. Ternyata, di sana hanya tertulis nama desa
dan kecamatan. Lalu, harus diapakankah alamat itu?! Aku sendiri tak tahu.
Adonara. Berkali kusebut nama itu
dalam lamunan, memanggil-manggil di setiap mimpi.
.
Kuteguk sisa kopi tadi pagi. Dingin
sudah. Sedingin kisah tak berujung antara aku dan dia yang sesungguhnya tak pernah
dimulai. Baru sekecap kurentang bias kehangatan di sampingnya. Namun, entah
harapan yang belum sempat dibentang ataukah ia memang tak inginkan, aku telah
kehilangan impi atas dirinya. Yang jelas, sebuah rasa telah membawaku
menjejakkan kaki di bumi Kelake Ado Pehan dan Kewae Sedo Bolen.
Sudah bertahun, Raffa. Aku
kehilangan sahabat. Kau pun tak pernah tahu seberapa besar kehilanganku atas
dirimu. Semua yang pernah kau berikan membuatku bersedia terbang jauh ke
Lamaholot. Bekerja mungkin adalah alasan yang paling masuk akal bagiku untuk
datang ke kotamu. Dan, memang itulah yang akhirnya kulakukan.
“Tapi, kenapa harus jauh-jauh ke
Flores, Sil?” Sedikit rasa tak ikhlas menaungi setiap kata yang terlontar dari
ibu kala itu.
“Biar lebih pengalaman, Bu. Bekerja
di mana pun asalkan sukses tidak masalah, kan?” Aku mencari alibi agar ibu tak
khawatir lagi. Paling tidak, untuk mengurangi kegelisahan serta meyakinkan
perempuan paruh baya itu bahwa aku akan baik-baik saja selama jauh darinya ---
di tempat yang benar-benar baru dan asing.
Kota ini tak terlalu besar jika
dibandingkan dengan Surabaya, tempat perjumpaan kita dulu. Harusnya di sini aku
bisa menemukanmu dalam kurun waktu singkat.
.
Pagi tadi, aku berjalan menyusuri
gang tempatku tinggal selama di sini. Kucoba untuk bertegur sapa dengan
tetangga-tetangga yang nampaknya mulai tak asing lagi dengan keberadaanku. Keakraban
bersama mereka makin terjalin dari hari ke hari. Bahkan, tak segan kami
bercengkrama bersama. Dari mereka pula, aku mengenal dan belajar bahasa
Adonara, meskipun masih sedikit-sedikit dan terdengar aneh apabila kutirukan.
"Mo
naranem heku?"
tanya mereka ramah saat pertama kali bertemu.
Aku hanya senyum-senyum tak mengerti.
Tersadar bahwa aku adalah perantau yang tidak bisa berbicara dengan bahasa
lokal, cepat-cepat diralatnya. "Nama kamu siapa?"
.
Hari demi hari yang terjalani di
sini membuatku semakin mengenal karakter khas Lamaholot, khususnya Adonara. Kehidupan
penduduknya yang sangat bersahaja, serta aroma laut yang kental di udara,
kembali mengingatkanku pada cerita Raffa tentang gambus Adonara. Katanya, syair
gambus Adonara berisi petuah-petuah klasik yang sudah hampir tak dipahami lagi
oleh generasi kini. Namun, bisa kulihat jejaknya masih tersisa di
pribadi-pribadi keturunan Lamaholot ini. Lama-lama, mulai kuragukan tentang
kebenaran bahwa di masa yang lalu, orang Adonara suka berperang.
Terkenang pula olehku, sebuah lagu
tradisional yang pernah dinyanyikan Raffa. Waktu itu masih pelajaran seni musik
dan setiap siswa wajib membawakan lagu daerah. Lagu inilah pilihannya.
'Keleng
laleng keleng siti bote laleng keleng'
Saat itu, aku hanya mampu
terbengong-bengong. Baru pertama kali seumur hidup kudengar logat Lamaholot.
Tentu aku sama sekali tak memahami maksud kata-kata itu. Tapi, saat Raffa
menyanyikannya, aku begitu tersihir, terutama dengan penghayatan sepenuh hatinya.
"Lagu ini adalah nina bobok
orang Adonara," katanya tersenyum bangga ketika kutanyakan lagu itu.
Entah bagaimana, tiba-tiba saja
muncul sebuah visi bertahun ke depan, kulihat Raffa tengah menimang bayi dalam
gendongan. Dengan penuh kasih sayang, lagu Laleng Keleng itu didendangkannya.
"Kenapa senyum-senyum
sendiri?" tanya Adel, membuyarkan lamunanku.
Takut ketahuan tengah berkhayal, buru-buru
kubereskan berbagai kenangan yang lama terpendam itu ke brankasnya lagi.
"Tidak apa-apa." Aku
tersenyum pada perempuan itu setelah kotak rapi --- berharap tak ada yang
tercecer di mata maupun rona wajah ini. Kuteguk lagi kopi yang tinggal tetes
terakhir. Masih nikmat. Artinya, masih ada kemungkinan bagiku untuk berjumpa
lagi denganmu, Raffa. Biarpun kisah ini sudah dingin, bahkan mungkin basi.
Setidaknya, rasa persahabatan kita masih tetap senikmat kopi ini. Jauh di lubuk
hati ini begitu berharap kau masih di sini dan mengingatku.
.
Hari Minggu, aku keluar rumah.
Kubulatkan tekad untuk menjelajahi Adonara. Aku ingin menyisir tempat tinggal
Raffa. Dulu, aku seorang bantara. Ya, anggaplah aku sedang mencari jejak. Atau,
bolehlah jika disebut bertualang.
Kebetulan tempat tinggalku terletak
di Waiwerang, salah satu daerah yang cukup ramai di Adonara. Waiwerang, kota
kecil di pesisir Adonara dengan Tugu Tujuh Belas Agustus yang berdiri sebagai landmark. Karena merupakan daerah yang cukup
berkembang, fasilitas transportasi lumayan mudah didapatkan jika hendak
bepergian ke berbagai penjuru. Sebelumnya, Adel, si induk semang yang sekaligus
rekan kerja di kantor, sudah menghujaniku dengan nasihat bermacam-macam.
'Hati-hati' sepanjang nian
kalimatnya, hanya itu yang melekat. Parah sekali ingatanku.
Kota di timur Flores ini tak
terlalu beda dengan cerita Raffa bertahun lalu. Kukeluarkan lagi buku lusuh
tempat tertuliskan alamatnya: Lamahala, Adonara Timur. Ajaib, dulu aku hanya
menuliskan alamat ini dan berangan tentangnya. Sulit dipercaya bahwa aku telah
menjejakkan kaki di atasnya. Andai kau ada di dekatku, kurasa aku akan
berteriak, "Raffa, lihatlah! Aku tiba di Lamahala Jaya, rumahmu! Aku
sampai di sini, tanpa guide, kau tahu?!"
Sayang, kau entah di mana, Raffa.
Mengapa mereka yang kutanya tak mengenalmu?
"Sudah dekat denganmu, tapi
rasanya kau masih saja jauh." Aku mendesah seiring desau angin Flores yang
kian akrab. Nun jauh di sana, birunya Ile Boleng tegar menantang cakrawala. Ialah
saksi bisu perjalanan Adonara dari masa ke masa. Sekali lagi, panorama gunung
ini sama persis dengan lukisan Raffa
untukku, yang diberikannya sehari sebelum bertolak ke Adonara.
“Ini untukmu. Simpanlah.”
“Apa ini?”
“Ini Ile Boleng. Aku sendiri yang
melukisnya.”
Takjub aku mengamati lukisan itu.
"Ile Boleng ibarat nyawa orang
Lamaholot, Sil. Kecantikannya tak pernah lekang dari hidup kami. Dia adalah
penjaga tanah Adonara," terangnya.
"Indah sekali. Suatu nanti,
aku ingin datang ke Adonaramu itu."
Ia menatapku tak percaya. Namun, ia
tersenyum senang.
"Benarkah? Aku tunggu,"
katanya.
Ya, memang kuakui, satu-satunya gunung
berapi di Pulau Adonara, dengan ketinggian 1.659 meter ini memang sangat indah.
Apalagi pemandangannya dipadukan dengan panorama pantai. Tak heran, jika Ile
Boleng direkomendasikan menjadi salah satu objek wisata dan juga menjadi tempat
favorit bagi para pendaki dan pecinta alam Flores.
"Aku sudah di sini, Raffa. Kau
di mana?"
.
Saat pulang, hari sudah sore. Adel
kedatangan tamu rupanya. Tapi, badan ini sudah cukup lelah, tak mau lagi ambil
pusing dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya menginginkan
satu hal saja, mandi. Udara pesisir Adonara yang cukup kering, membuat keringatku
membanjir. Pun begitu, aku berhasil juga mengantongi jagung titi dan tenun
ikat, oleh-oleh khas Adonara.
"Sil!" Panggil Adel.
Dilambaikannya tangan padaku.
"Ada apa lagi?" Dalam
hati aku mengeluh. "Mengapa Adel tak mengerti kalau aku lelah dan tampak
berantakan?"
Hanya saja, demi menghormati sang
tuan rumah, aku menurut dan mendekat padanya.
"Ini, kenalkan sepupuku. Baru
datang dari Kupang. Dan ini, teman kerjaku dari Jawa. Kebetulan sudah tiga
bulan kos di sini." Adel memperkenalkanku pada tamunya.
"Apa kabar?" Lelaki
berkulit cokelat gelap, postur tinggi, dengan rambut ikal sebahu yang diikat ke
belakang itu mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah.
'Logat Lamaholotnya sudah tidak
terlalu kental, kurasa lama ia tak tinggal di Adonara,' pikirku.
Aku menyambutnya. "Panggil
saja Silvi."
Begitu memperhatikan wajah tirusnya,
sesaat aku terpana. Raut mukanya mengingatkanku pada seseorang.
"Saya Rafael." Mungkin
karena melihat ekspresiku atau karena hal lain, ia mengerutkan kening. Tampak
ia seperti berpikir sejenak. "Eh, tunggu dulu! Apa kita pernah
bertemu?"
Senyumku ringan terkembang.
"Mungkin ya, mungkin juga tidak, Ama."
Tanpa sadar, kujabat tangannya
erat.
______
Catatan :
Persekutuan Watan Lema : Persekutuan
Lima Pantai, yaitu kerjasama antara Kerajaan Adonara dan dua kerajaan lain di
Pulau Solor
Kelake Ado Pehan dan Kewae Sedo
Bolen : nenek moyang Adonara
Lamaholot : nama etnik di Flores,
NTT
Jagung titi : makanan ringan khas
Adonara
Ama : sebutan untuk laki-laki Adonara
-------
Bawang, 5.11.2015
***************************************
Keterangan: Sudah dimuat di Koran Pantura/Tabloid Banger, Oktober 2016
*) stop plagiarisme!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar