Jumat, 17 April 2020

Cerpen " Lelaki Adonara " ( Dwi Rahmi W )


Adalah Adonara, sebuah pulau yang terletak di sebelah timur Flores, di mana pernah terdapat Persekutuan Watan Lema yang melegenda ratusan tahun silam. Pantai-pantainya yang konon seindah surga; seperti Watotena, Sagu, Mekko, Bani, dan lain-lain, selalu melambai-lambai, menggoda manusia di daratan untuk mengecup bibir menawannya. Tapi, bukan itu yang kukenangkan dari Pulau Bunga nan termasyhur. Melainkan, tentang seorang lelaki, yang pernah menorehkan sebuah kisah dalam hidupku. Lelaki yang entah karena alasan apa ia pergi, meninggalkan serbuk endapan dalam cangkir kopi hidupku. Hingga akhirnya, kisahnya membawaku kepada sisi lain dirinya, Adonara.

*
"Sil..."
"Mmm." Acuh tak acuh kujawab panggilannya, teman satu bangku
"Betul kau mau cari lelaki Adonara itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau bahkan tak tahu di mana Adonara itu, kan?"
Aku terdiam. Memang benar, tapi...
Nela menatapku iba. "Sebetulnya, apa sih yang ingin kau cari? Padahal Raffa entah masih memikirkanmu."
"Entahlah." Aku menopang dagu sambil menerawang.
Sebulan lalu, Raffa kembali ke negerinya --- Adonara, dengan alasan mudik. Tapi, setelahnya tak ada kabar yang pasti. Karena ia tak pernah lagi kembali. Sedang, tak ada seorang pun yang mesti kutanya tentang dirinya. Ia juga tak pernah mengirim pesan apa pun untukku.
Tinggal alamat saja yang kini tersisa. Itu pun kudapat dengan sedikit rayuan gombal pada seorang pegawai tata usaha sekolah untuk menyelakan sedikit waktu di antara kesibukan demi mencarikan sebuah alamat dari arsip data siswa. Ternyata, di sana hanya tertulis nama desa dan kecamatan. Lalu, harus diapakankah alamat itu?! Aku sendiri tak tahu.
Adonara. Berkali kusebut nama itu dalam lamunan, memanggil-manggil di setiap mimpi.
.
Kuteguk sisa kopi tadi pagi. Dingin sudah. Sedingin kisah tak berujung antara aku dan dia yang sesungguhnya tak pernah dimulai. Baru sekecap kurentang bias kehangatan di sampingnya. Namun, entah harapan yang belum sempat dibentang ataukah ia memang tak inginkan, aku telah kehilangan impi atas dirinya. Yang jelas, sebuah rasa telah membawaku menjejakkan kaki di bumi Kelake Ado Pehan dan Kewae Sedo Bolen.
Sudah bertahun, Raffa. Aku kehilangan sahabat. Kau pun tak pernah tahu seberapa besar kehilanganku atas dirimu. Semua yang pernah kau berikan membuatku bersedia terbang jauh ke Lamaholot. Bekerja mungkin adalah alasan yang paling masuk akal bagiku untuk datang ke kotamu. Dan, memang itulah yang akhirnya kulakukan.
“Tapi, kenapa harus jauh-jauh ke Flores, Sil?” Sedikit rasa tak ikhlas menaungi setiap kata yang terlontar dari ibu kala itu.
“Biar lebih pengalaman, Bu. Bekerja di mana pun asalkan sukses tidak masalah, kan?” Aku mencari alibi agar ibu tak khawatir lagi. Paling tidak, untuk mengurangi kegelisahan serta meyakinkan perempuan paruh baya itu bahwa aku akan baik-baik saja selama jauh darinya --- di tempat yang benar-benar baru dan asing.
Kota ini tak terlalu besar jika dibandingkan dengan Surabaya, tempat perjumpaan kita dulu. Harusnya di sini aku bisa menemukanmu dalam kurun waktu singkat.
.
Pagi tadi, aku berjalan menyusuri gang tempatku tinggal selama di sini. Kucoba untuk bertegur sapa dengan tetangga-tetangga yang nampaknya mulai tak asing lagi dengan keberadaanku. Keakraban bersama mereka makin terjalin dari hari ke hari. Bahkan, tak segan kami bercengkrama bersama. Dari mereka pula, aku mengenal dan belajar bahasa Adonara, meskipun masih sedikit-sedikit dan terdengar aneh apabila kutirukan.
"Mo naranem heku?" tanya mereka ramah saat pertama kali bertemu.
Aku hanya senyum-senyum tak mengerti. Tersadar bahwa aku adalah perantau yang tidak bisa berbicara dengan bahasa lokal, cepat-cepat diralatnya. "Nama kamu siapa?"
.
Hari demi hari yang terjalani di sini membuatku semakin mengenal karakter khas Lamaholot, khususnya Adonara. Kehidupan penduduknya yang sangat bersahaja, serta aroma laut yang kental di udara, kembali mengingatkanku pada cerita Raffa tentang gambus Adonara. Katanya, syair gambus Adonara berisi petuah-petuah klasik yang sudah hampir tak dipahami lagi oleh generasi kini. Namun, bisa kulihat jejaknya masih tersisa di pribadi-pribadi keturunan Lamaholot ini. Lama-lama, mulai kuragukan tentang kebenaran bahwa di masa yang lalu, orang Adonara suka berperang.
Terkenang pula olehku, sebuah lagu tradisional yang pernah dinyanyikan Raffa. Waktu itu masih pelajaran seni musik dan setiap siswa wajib membawakan lagu daerah. Lagu inilah pilihannya.
'Keleng laleng keleng siti bote laleng keleng'
Saat itu, aku hanya mampu terbengong-bengong. Baru pertama kali seumur hidup kudengar logat Lamaholot. Tentu aku sama sekali tak memahami maksud kata-kata itu. Tapi, saat Raffa menyanyikannya, aku begitu tersihir, terutama dengan penghayatan sepenuh hatinya.
"Lagu ini adalah nina bobok orang Adonara," katanya tersenyum bangga ketika kutanyakan lagu itu.
Entah bagaimana, tiba-tiba saja muncul sebuah visi bertahun ke depan, kulihat Raffa tengah menimang bayi dalam gendongan. Dengan penuh kasih sayang, lagu Laleng Keleng itu didendangkannya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Adel, membuyarkan lamunanku.
Takut ketahuan tengah berkhayal, buru-buru kubereskan berbagai kenangan yang lama terpendam itu ke brankasnya lagi.
"Tidak apa-apa." Aku tersenyum pada perempuan itu setelah kotak rapi --- berharap tak ada yang tercecer di mata maupun rona wajah ini. Kuteguk lagi kopi yang tinggal tetes terakhir. Masih nikmat. Artinya, masih ada kemungkinan bagiku untuk berjumpa lagi denganmu, Raffa. Biarpun kisah ini sudah dingin, bahkan mungkin basi. Setidaknya, rasa persahabatan kita masih tetap senikmat kopi ini. Jauh di lubuk hati ini begitu berharap kau masih di sini dan mengingatku.
.
Hari Minggu, aku keluar rumah. Kubulatkan tekad untuk menjelajahi Adonara. Aku ingin menyisir tempat tinggal Raffa. Dulu, aku seorang bantara. Ya, anggaplah aku sedang mencari jejak. Atau, bolehlah jika disebut bertualang.
Kebetulan tempat tinggalku terletak di Waiwerang, salah satu daerah yang cukup ramai di Adonara. Waiwerang, kota kecil di pesisir Adonara dengan Tugu Tujuh Belas Agustus yang berdiri sebagai landmark. Karena merupakan daerah yang cukup berkembang, fasilitas transportasi lumayan mudah didapatkan jika hendak bepergian ke berbagai penjuru. Sebelumnya, Adel, si induk semang yang sekaligus rekan kerja di kantor, sudah menghujaniku dengan nasihat bermacam-macam.
'Hati-hati' sepanjang nian kalimatnya, hanya itu yang melekat. Parah sekali ingatanku.
Kota di timur Flores ini tak terlalu beda dengan cerita Raffa bertahun lalu. Kukeluarkan lagi buku lusuh tempat tertuliskan alamatnya: Lamahala, Adonara Timur. Ajaib, dulu aku hanya menuliskan alamat ini dan berangan tentangnya. Sulit dipercaya bahwa aku telah menjejakkan kaki di atasnya. Andai kau ada di dekatku, kurasa aku akan berteriak, "Raffa, lihatlah! Aku tiba di Lamahala Jaya, rumahmu! Aku sampai di sini, tanpa guide, kau tahu?!"
Sayang, kau entah di mana, Raffa. Mengapa mereka yang kutanya tak mengenalmu?
"Sudah dekat denganmu, tapi rasanya kau masih saja jauh." Aku mendesah seiring desau angin Flores yang kian akrab. Nun jauh di sana, birunya Ile Boleng tegar menantang cakrawala. Ialah saksi bisu perjalanan Adonara dari masa ke masa. Sekali lagi, panorama gunung ini sama persis dengan lukisan  Raffa untukku, yang diberikannya sehari sebelum bertolak ke Adonara.
“Ini untukmu. Simpanlah.”
“Apa ini?”
“Ini Ile Boleng. Aku sendiri yang melukisnya.”
Takjub aku mengamati lukisan itu.
"Ile Boleng ibarat nyawa orang Lamaholot, Sil. Kecantikannya tak pernah lekang dari hidup kami. Dia adalah penjaga tanah Adonara," terangnya.
"Indah sekali. Suatu nanti, aku ingin datang ke Adonaramu itu."
Ia menatapku tak percaya. Namun, ia tersenyum senang.
"Benarkah? Aku tunggu," katanya.
Ya, memang kuakui, satu-satunya gunung berapi di Pulau Adonara, dengan ketinggian 1.659 meter ini memang sangat indah. Apalagi pemandangannya dipadukan dengan panorama pantai. Tak heran, jika Ile Boleng direkomendasikan menjadi salah satu objek wisata dan juga menjadi tempat favorit bagi para pendaki dan pecinta alam Flores.
"Aku sudah di sini, Raffa. Kau di mana?"
.
Saat pulang, hari sudah sore. Adel kedatangan tamu rupanya. Tapi, badan ini sudah cukup lelah, tak mau lagi ambil pusing dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya menginginkan satu hal saja, mandi. Udara pesisir Adonara yang cukup kering, membuat keringatku membanjir. Pun begitu, aku berhasil juga mengantongi jagung titi dan tenun ikat, oleh-oleh khas Adonara.
"Sil!" Panggil Adel. Dilambaikannya tangan padaku.
"Ada apa lagi?" Dalam hati aku mengeluh. "Mengapa Adel tak mengerti kalau aku lelah dan tampak berantakan?"
Hanya saja, demi menghormati sang tuan rumah, aku menurut dan mendekat padanya.
"Ini, kenalkan sepupuku. Baru datang dari Kupang. Dan ini, teman kerjaku dari Jawa. Kebetulan sudah tiga bulan kos di sini." Adel memperkenalkanku pada tamunya.
"Apa kabar?" Lelaki berkulit cokelat gelap, postur tinggi, dengan rambut ikal sebahu yang diikat ke belakang itu mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah.
'Logat Lamaholotnya sudah tidak terlalu kental, kurasa lama ia tak tinggal di Adonara,' pikirku.
Aku menyambutnya. "Panggil saja Silvi."
Begitu memperhatikan wajah tirusnya, sesaat aku terpana. Raut mukanya mengingatkanku pada seseorang.
"Saya Rafael." Mungkin karena melihat ekspresiku atau karena hal lain, ia mengerutkan kening. Tampak ia seperti berpikir sejenak. "Eh, tunggu dulu! Apa kita pernah bertemu?"
Senyumku ringan terkembang. "Mungkin ya, mungkin juga tidak, Ama."
Tanpa sadar, kujabat tangannya erat.
______

Catatan :
Persekutuan Watan Lema : Persekutuan Lima Pantai, yaitu kerjasama antara Kerajaan Adonara dan dua kerajaan lain di Pulau Solor
Kelake Ado Pehan dan Kewae Sedo Bolen : nenek moyang Adonara
Lamaholot : nama etnik di Flores, NTT
Jagung titi : makanan ringan khas Adonara
Ama : sebutan untuk laki-laki Adonara
-------

Bawang, 5.11.2015


***************************************
Keterangan: Sudah dimuat di Koran Pantura/Tabloid Banger, Oktober 2016

*) stop plagiarisme!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar