Jumat, 24 September 2021

Cerpen TANAH MAHAR GADING

 

TANAH MAHAR GADING

Oleh: Dwi Rahmi Wahyuningsih

 

sumber: https://gpswisataindonesia.info/kain-tenun-adonara-flores-timur-ntt/

Perempuan pengrajin tenun ikat itu tekun menjalin benang demi benang. Dilaluinya menit demi menit hingga berjam-jam kemudian dengan aktivitas yang sama. Wajahnya yang keras mencurahkan beruntai bulir keringat. Tengah dilukisnya kwatek dengan cahaya. Garis-garis horisontal yang diselingi motif geometris telah tergambar di sehelai kain yang baru setengah jadi.

"Ini namanya tenun sunter'a, Ina," terangnya.

Aku mendengar mentor les tenunku dengan takzim. Sesekali kupandangi matanya yang teduh.

"Sunter'a jarang dibuat. Ini saja pesanan untuk acara para ata’ kebe'len," lanjutnya.

“Apa bedanya tenun ikat dengan songket, Ina?”

“Pertanyaan yang sangat bagus, Ina. Kain songket itu menggunakan benang emas atau perak di salah satu sisinya. Sedang, untuk tenun ikat, motif bisa dilihat pada dua sisi, alias bolak-balik. Tenun Adonara juga berbeda dengan tenun dari daerah lain. Jika tenun yang lain motifnya menyebar di seluruh kain, maka motif Adonara hanya terdapat di atas dan bawah kain, variasinya pun lebih dari tiga benang." Panjang ia menerangkan. Sedang, aku hanya menatapnya takjub.

Sudah sebulan aku berguru padanya. Namun, belum terampil juga mengikat benang dengan tali plastik. Kalau tidak, benangnya tidak terjalin baik, ruwet dan tak terurai. Akibatnya, motifnya pun jadi berantakan. Kalau sudah begitu, Ina Lusi hanya tersenyum mendamaikan, sambil berkata lembut, “membuat tenun ikat butuh proses dan juga kesabaran, Ina Silvi.”

Telah ditempuhnya berpuluh waktu bersama alat tenun dan benang lungsin sebagai senjata. Itulah perang yang sesungguhnya bagi masyarakat Adonara --- keberanian menentang hidup.

Ia adalah wanita bermata pisau, yang tak segan menancapkan keganasannya pada siapa pun yang berani melukai takdirnya. Sebaliknya, mata itu akan memancarkan sinar gemintang pada mereka yang menaburkan cahaya cinta di langitnya. Perempuan itu adalah pahlawan sejati bagi anak-anaknya, juga penjaga setia tradisi Flores. Dialah perempuan tenun ikat Adonara.

*

Ina sudah menikah?” tanyanya sambil terus menenun.

“Belum.” Aku menjawab malu-malu.

Perempuan setengah baya itu tersenyum tipis. "Saya heran, kenapa perempuan single sepertimu mau merantau ke tempat yang jauh?"

"Mencari pengalaman saja, Ina." Alasan yang tidak terlalu logis sebenarnya. Tapi, tak berarti juga bohong, kan? Aku memang mengagumi surga terapung ini, meskipun sesungguhnya itu terjadi karena ada seseorang yang kukagumi tinggal di suatu sudut Lamahala.

Ina Lusi melihatku sekilas. "Cita-cita yang luhur."

"Saya juga punya anak." Katanya kemudian, seolah ditujukan pada diri sendiri.

"O, ya?" Mataku membulat. Sepanjang kami saling kenal, tak pernah sekali pun ia bicara tentang anak. Mungkin, kenyamanannya bersamaku membuat hatinya terbuka. Mudah-mudahan.

Seolah hendak melepaskan beban berat, ia menghela nafas. "Ya. Dia seusia dengan Ina."

Kutunggu kisah berikutnya.

"Tapi, bertahun-tahun sudah ia tak kembali. Hanya sekali waktu ia memberi kabar." Ia bercerita dengan suara serak tanpa mengurangi kecepatannya mengikat benang demi benang.

Aku tak berani mengganggunya lagi. Apalagi sekilas kulihat bulir bening matanya mengembang saat ia menoleh ke bingkai foto yang terpajang di dinding.

Aku menatapnya kosong sambil mengenang kisahku sendiri.

"Sunter'a harganya berapa, Ina?" Kucoba alihkan pembicaraan. Melihatnya bersedih, seolah melihat ibu sendiri yang menangis. Mataku ikut berkaca-kaca.

Cukup berhasil rupanya. Dialihkannya lagi perhatian pada tenun.

"Tergantung pada motif. Semakin rumit, semakin mahal pula harganya. Juga dilihat dari jenis benang yang digunakan, seperti sunter'a ini. Dan pemakainya adalah ata’ kebe'len, para bangsawan atau pembesar Adonara. Bisa dibilang, ini adalah kain eksklusif. Jadi, harganya pun lumayan mahal."

*

Aku melangkah dari rumah Ina Lusi dengan gontai. Sepotong kalimat yang dilontarkannya barusan telah membuat hatiku tak tenang. Sudah bertahun anaknya tidak pulang. Sebagaimana nurani seorang ibu, tak mampu tergambarkan seperti apa kerinduan pada buah hati tersayangnya.

“Ia mencintai seorang perempuan, Ina. Tapi, saya yang hanya buruh tenun, mana mampu membelikan mahar sesempurna keinginan Arik. Sejak itu, ia pergi dan belum kembali. Ia bilang akan cari uang untuk membeli gading dan kambing bertanduk panjang terhunus seperti pedang.” Suara Ina Lusi yang menyayat hati menggores kalbuku.

Aku pergi meninggalkan kampungku hanya demi mencari Raffa. Arik, panggilan kesayangan putera ina Lusi, pergi untuk mempersembahkan sebilah gading pada perempuannya. Sementara, Ina Lusi sendiri sibuk mencarikan biaya agar prosesi pernikahan anaknya nanti berjalan sempurna. Perjuangan cinta memang begitu ironis.

*

“Adonara, Tanah Mahar Gading tapi tak pernah lahirkan gajah.” Otakku sibuk, mencoba mengurai maksud kalimat dalam puisi milik Bara Pattyradja. Dalam pernikahan penduduk Adonara, gading selalu dipakai sebagai mahar. Anehnya, tempat ini tak pernah menjadi tempat kehidupan untuk gajah.

Adel datang dan duduk di sampingku. Aku menoleh padanya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya sambil mengamatiku.

Aku menyeruput kopi susu hangat dari cangkir. “Seberapa penting gading untuk orang Adonara, Ina?”

“Mengapa tiba-tiba kamu bertanya tentang gading?” Adel bertanya heran.

Aku lalu menceritakan tentang kisah pengrajin tenun ikat dan puteranya yang hilang. Induk semangku itu manggut-manggut.

"Gading itu ibarat sekantung emas kalau di negerimu. Bahkan mungkin lebih nilainya. Memberikan gading untuk pasangannya adalah kebanggaan seorang lelaki dalam sebuah pernikahan. Pun begitu, untuk pihak perempuan bila diberi mahar itu."

"Hanya gading sajakah yang diberikan sebagai mahar?" Aku teringat Arik.

“Sebenarnya tidak juga. Di sini, umumnya yang memberikan gading adalah pemuda pesisir yang akan menikahi perempuan pedalaman.” Adel berhenti sejenak. "Bagi kami, tidak penting berapa pun harganya. Itu adalah tradisi. Di situlah nilai emasnya. Tradisi itu akan terus kami jaga sepanjang hidup, sampai bergenerasi yang akan datang, supaya tak punah ditelan masa."

Kutatap Adel dalam-dalam.

“Rafael menanyakanmu.” Adel mengalihkan topik. “Dia bilang, akan datang kemari.”

“Eh?” Aku terkejut mendengar info ini. Dadaku nendadak terasa sedikit sesak mengingat pertemuan kami sebelumnya.

.

Lelaki itu memperhatikanku lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang hendak dibaca atau didengarnya dariku. Aku sendiri tak mampu menatapnya. Bola mata itu terlalu kemilau bak permata. Pun auranya memiliki gravitasi yang teramat kuat. Bahkan Newton saja mungkin tak mampu mengukurnya.

“Aku tak pernah menyangka kau benar-benar datang ke Adonara, Sil.”

“Kamu tidak suka?” Ada sedikit luka tergores kalimatnya di hati ini. Terbersit kembali sebuah sayatan sembilu. Jangan-jangan, hanya aku sendiri yang mengenang kisah kami dulu. Buktinya, ah sudahlah… .

Kupejamkan mata untuk meredam sekelumit nyeri yang tiba-tiba tergores di hati. Untunglah, perih itu masih sanggup terobati semilir angin Watotena nan menawan. Eksotika alamnya yang perawan, benar-benar membuatku serasa di surga. Apalagi di sebelahku ada dia. Kulirik lelaki Adonara yang bertahun hilang secara misterius dari hidupku. Seakan tak percaya, ia duduk sedekat ini, apalagi di lempeng batu magma yang sama. Darahku berasa berdeburan, sama seperti dulu. Ia belum banyak berubah; masih saja cool. ‘Andai saja…,’ kutepiskan rasa itu jauh-jauh.

Kulempar pandangan ke hamparan pasir putih sepanjang pantai. Bebatuan magma yang condong menghadap laut, begitu kuat membenteng Nelerereng dan Adonara timur dari terpaan gelombang. Seperti halnya aku yang setia menunggu dan mencari Raffa, meskipun musim telah berkali berganti. Hatiku digempur kepedihan.

Dari sudut mata, kulihat lelaki itu tertunduk memeluk mendung di telaga beningnya.

“Tapi…benarkah kau akan pulang? Maksudku, ke Jawa?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak. “Kau juga. Pulanglah!”

Ia menoleh kaget padaku. “Pulang? Ke mana?”

“Sudahlah. Aku tahu kisahmu, meski tidak terlalu banyak, Rafael Lamahoda.” Kucoba menantang matanya.

Sesaat kami membisu bersama dalam kecamuk di otak masing-masing. Ia tersenyum getir.

“Dari mana kau tahu aku belum pulang?”

“Ibumu.” Ingatan membawaku pada cerita Ina Lusi dan foto seorang pemuda yang tergantung di dinding. “Mengapa kau tak mau pulang?”

Ia terdiam lagi dan menggigit bibir.

Diperhatikannya seekor burung camar yang terbang di angkasa Pantai Watotena. Tak lama, burung itu terbang merendah, menyentuh permukaan air dengan paruhnya dan terbang lagi, membawa seekor ikan bekal makan sore. Bersamaan dengan itu, lelaki di sampingku mendesah.

“Aku tak bisa pulang dengan kehampaan, Sil.”

“Maksudmu?”

“Haruskah aku pulang dengan tak membawa hasil apa pun untuk orang yang kucintai sepanjang hidup?”

Aku menatap kesenduannya. Kini, giliranku yang ingin membuka tabir di wajahnya.

“Kau tidak tahu rasa hati seorang ibu,” gumamku.

.

Mentari senja makin turun. Semburat jingganya merona di ufuk barat, menambah eksotika bibir Adonara. Sudah berapa jam kami di sini. Aku berjalan di hampar pasir basah sembari menatap bola mata langit yang mulai tampak kemerahan. Raffa pun mengiringi langkahku.

“Jadi, seperti inilah rasanya.” Laki-laki  berkulit cokelat gelap itu memecah suasana. Rambut ikalnya dibiarkan terurai hingga berkibaran dipermainkan angin.

Aku mengerutkan dahi. “Rasa? Rasa apa?”

Bukannya menjawab, justru ia membicarakan hal lain.

“Maafkan aku.” Suaranya terdengar berat dan menyesal.

“Untuk?” Aku menoleh padanya semakin tak mengerti. ‘Apa yang sesungguhnya dibicarakannya?’ Sementara, kulihat ia tengah memandang bentangan laut hijau biru. Buih-buih tampak mengombak di permukaan yang berkilau terpantul sinar mentari senja. Mereka seumpama lidah-lidah air berkejaran, berebut menjilati kaki kami yang telanjang dan menyisakan butiran pasir di sela jari.

“Meninggalkanmu. Dulu,” katanya lirih sambil tertunduk menatap kaki dan celana jeans hitamnya yang basah.

Seteguk ludah getir bergulir di kerongkongan, manakala teringat lagi hari-hari di awal kehilangan dirinya. Meskipun akhirnya aku mampu terbiasa.

“Seharusnya aku memberitahumu kalau aku tidak akan kembali ke Surabaya. Tapi, sungguh aku tak mampu...untuk benar-benar pergi.”

Suaranya yang parau makin terbenam debur ombak.

Aku tak ingin menggalinya lebih lanjut. Apalagi mengenang luka lama, Telah kulihat siapa dan bagaimana ibunya. Bisa kulihat juga, tubuh lelaki ini lebih kurus dari yang terakhir kuingat --- saat ia masih berseragam putih abu-abu. Meskipun tak kupungkiri, ia tampak lebih dewasa, namun sirat matanya bercerita jauh lebih banyak dari yang dieja oleh lidahnya. Dari sana, bisa kubayangkan apa yang hendak diungkapkannya.

Di sisi lain, hati ini tak siap dengan sayatan lain yang akan terlontar dari bibirnya. Ia tak boleh tahu tentang rasa itu. Rasa yang membawaku datang ke Adonara. Aku juga tak ingin tahu, mengapa waktu itu ia harus pergi. Aku tak pernah siap menerima kegetiran sekali lagi.

Aku sudah bertemu lagi dengannya, sesuai harapanku. Nyatanya, aku akhirnya tahu, bahwa rasaku, hanyalah impi remaja belaka. Impian yang tertulis di atas pasir yang kemudian tersapu ombak bernama waktu. Sebuah rasa yang fana dan entah berapa lama lagi 'kan bertengger di hening ini. ‘Perempuan yang hendak dipinangnya’. Aku harus tahu diri.

"Sil..." ia memanggilku lirih.

"Ya?" Aku melihat seberkas keraguan di wajahnya.

“Bisakah kau menunda kepergianmu?”

Aku tertawa kecil. ‘Maksudmu untuk melihatmu menikah? Kau kejam sekali padaku, Raffa.’

“Kontrak kerjaku sudah berakhir. Aku tidak tahu, apa yang membuatku harus bertahan di sini lebih lama lagi.” Kataku datar. Cukup sukses kuselimuti suasana hati ini.

Ia menatapku meragu, sebelum kemudian berkata, "mungkin ada.”

“Mungkin ada? Maksudmu?” Aku bersiap mendengar sarannya. Dulu, sarannya selalu menyihirku. Aku ingin tahu, apakah hari ini juga begitu?

"Yahhh, jika saja..." Air mukanya berubah-ubah, seolah sedang menimbang-nimbang, “...kau mau menerima belis dariku.”

Belis?” aku mengulang istilah itu tak mengerti.

Ia mengangguk. “Ya. Belis, mahar gading dari Adonara."

Jantungku tercekat. Saat itu juga langkahku terhenti. Aku menatapnya tak percaya.

“Apakah itu, artinya…” Kalimatku terputus di tenggorokan.

Sementara, ia terus menatapku lekat. Terang, ia menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku dengan penuh harap.

*

Seminggu kemudian...

Panggilan terhadap penumpang pesawat tujuan Surabaya telah bergema di Bandara El Tari, Kupang. Aku segera berdiri. Pun Raffa yang sejak tadi menemaniku.

Kuberikan pada Raffa, sebuah buku diary kumal. Di sana, banyak kuceritakan tentang kisah di masa SMA hingga hari ini, tentang dirinya. Sebaliknya, diberikannya sebuah senai warna merah dengan motif horisontal berwarna biru padaku. Aku menerimanya. Cukup tersentuh hatiku manakala kutemukan namaku tertulis dengan benang emas di sudut kain itu.

“Itu pemberian ina-ku. Beliau bilang sangat menyayangimu seperti puterinya sendiri.”

“Terima kasih. Katakan padanya, kalau aku menyayanginya juga, sama seperti ibuku sendiri.”

Ia terdiam. Wajahnya yang air tenang menyiratkan banyak ungkapan. Dan, aku mengerti apa yang dipikirkannya.

"Maafkan aku." Penuh haru kupandangi lelaki Melayu-Melanesia itu. Tak sangka, bertahun diri terpisah darinya, cinta yang terbentang di antara dua waktu itu tak pernah lekang.

Ia mengangguk. "Nantikanku di biru langitmu, Silvi. Aku pasti datang bersama belis dan sunter'a kebanggaan Adonara."

"Aku percaya, Ama." Kusunggingkan senyum termanis yang kupunya. Kutatap janji Ado pada Sedo yang terlukis di sepasang bening matanya sesaat, sebelum akhirnya kuayunkan kaki meninggalkan tanah Flores yang penuh kenangan.

--------

 

Catatan :

Adonara : nama sebuah pulau di Flores Timur, NTT

Kwatek  : kain tenun

Ina                      : panggilan untuk perempuan

sunter'a  : kain tenun sutera

ata' kebe'len       : bangsawan/pembesar Adonara

arik                    : adik

ile Boleng          : Gunung Ile Boleng, satu-satunya gunung di Adonara

senai                  : selendang (syal)

ama                    : panggilan untuk laki-laki Adonara

Ado dan Sedo    : nama suami-istri yang merupakan nenek moyang Adonara

--------

 

Batang, 6 November 2015

 (Telah dipublikasikan oleh KORAN PANTURA, 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar