Kamis, 01 Februari 2018

ADONARA (PUISI)



Adonara, Tanah Mahar Gading
Tapi Tak Pernah Lahirkan Gajah

 Oleh : Bara Pattyradja


adonara. tanah mahar gading
tapi tak pernah lahirkan
gajah.
waiwerang—witihama
bertabur bidadari beribu.
bila cinta yang biru
datang mengetuk pintu hatimu
sarungkanlah sebilah gading

adonara. mata fajar bianglala
sorga yang terapung antara
solor dan lomblen

ketika hari berangsur malam
ketika suara-suara
mulai membisu
di kutub pulau
suluh di pucuk-pucuk layar
samudera yang kelam
menjelma riak
penuh cahaya

aku tak sedang berziarah
disini.
telah kulalui upacara
demi upacara.
dan di telapak kaki ibu
aku temukan arti rumah

maka kulupakan nama-nama
kulupakan kerling mata nina
yang menghadangku
di teba-teba jalan
kulupakan harum parfum kota-kota
yang gaduh

di rahimmu
yang purba
padang-padang terbuka
hutan hujan kemarau
meranggas berpuluh-puluh
waktu


adonara
tak ada mal
dan supermarket disini 
tak ada sirkus politik
dan kebun binatang
ada hanya sebait teluh
dan mantra
menyihir siang-malamku
jadi seribu puisi

adonara
berabad kusangsikan riwayatmu
kusangsikan bahwa di tanahmu
darah adalah air
bahwa perang adalah keberanian

keberanian itu
bukan parang dan tombak
yang kau acung-acungkan
tapi laut tuak manismu
yang kuteguk
bagai sajak
di gunung-gunung

sebab hidup
bermula dari kata
berakhir pada kata

tapi mengapa
kau asah belati?
dan matamu
sengit seperti jagal?

adonara
bukan tangan kebal kelewang
yang menyentuh hatiku
tapi relung mata Ina
mata Ina
yang tabah mengayuh peluh
di los-los pasar
tanpa kelu Ia terus berjalan 
menyangga hidup
yang kuyup
sambil mengingat
wajah Ama, wajahmu
yang pecah
di pucuk-pucuk bandar

adonara
keberanian itu
bukan parang dan tombak
yang kau acung-acungkan
tapi laut tuak manismu
yang kuteguk
bagai sajak
di gunung-gunung

keberanian itu
seperti wanita
di ranum dadanya
setiap laki-laki
mengibas sayap-
sayap takdirnya


 sumber gambar : google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar