TANAH MAHAR GADING
Oleh: Dwi Rahmi Wahyuningsih

sumber: https://gpswisataindonesia.info/kain-tenun-adonara-flores-timur-ntt/
Perempuan pengrajin tenun ikat
itu tekun menjalin benang demi benang. Dilaluinya menit demi menit hingga
berjam-jam kemudian dengan aktivitas yang sama. Wajahnya yang keras mencurahkan
beruntai bulir keringat. Tengah dilukisnya kwatek
dengan cahaya. Garis-garis horisontal yang diselingi motif geometris telah
tergambar di sehelai kain yang baru setengah jadi.
"Ini namanya tenun sunter'a, Ina," terangnya.
Aku mendengar mentor les tenunku
dengan takzim. Sesekali kupandangi matanya yang teduh.
"Sunter'a jarang dibuat. Ini saja pesanan untuk acara para ata’ kebe'len," lanjutnya.
“Apa bedanya tenun ikat dengan
songket, Ina?”
“Pertanyaan yang sangat bagus, Ina. Kain songket itu menggunakan benang
emas atau perak di salah satu sisinya. Sedang, untuk tenun ikat, motif bisa
dilihat pada dua sisi, alias bolak-balik. Tenun Adonara juga berbeda dengan
tenun dari daerah lain. Jika tenun yang lain motifnya menyebar di seluruh kain,
maka motif Adonara hanya terdapat di atas dan bawah kain, variasinya pun lebih
dari tiga benang." Panjang ia menerangkan. Sedang, aku hanya menatapnya
takjub.
Sudah sebulan aku berguru
padanya. Namun, belum terampil juga mengikat benang dengan tali plastik. Kalau
tidak, benangnya tidak terjalin baik, ruwet dan tak terurai. Akibatnya,
motifnya pun jadi berantakan. Kalau sudah begitu, Ina Lusi hanya tersenyum mendamaikan, sambil berkata lembut,
“membuat tenun ikat butuh proses dan juga kesabaran, Ina Silvi.”
Telah ditempuhnya berpuluh waktu
bersama alat tenun dan benang lungsin sebagai senjata. Itulah perang yang
sesungguhnya bagi masyarakat Adonara --- keberanian menentang hidup.
Ia adalah wanita bermata pisau,
yang tak segan menancapkan keganasannya pada siapa pun yang berani melukai
takdirnya. Sebaliknya, mata itu akan memancarkan sinar gemintang pada mereka
yang menaburkan cahaya cinta di langitnya. Perempuan itu adalah pahlawan sejati
bagi anak-anaknya, juga penjaga setia tradisi Flores. Dialah perempuan tenun
ikat Adonara.
*
“Ina sudah menikah?” tanyanya sambil terus menenun.
“Belum.” Aku menjawab malu-malu.
Perempuan setengah baya itu
tersenyum tipis. "Saya heran, kenapa perempuan single sepertimu mau merantau ke tempat yang jauh?"
"Mencari pengalaman saja, Ina." Alasan yang tidak terlalu
logis sebenarnya. Tapi, tak berarti juga bohong, kan? Aku memang mengagumi
surga terapung ini, meskipun sesungguhnya itu terjadi karena ada seseorang yang
kukagumi tinggal di suatu sudut Lamahala.
Ina Lusi melihatku sekilas. "Cita-cita yang luhur."
"Saya juga punya
anak." Katanya kemudian, seolah ditujukan pada diri sendiri.
"O, ya?" Mataku
membulat. Sepanjang kami saling kenal, tak pernah sekali pun ia bicara tentang
anak. Mungkin, kenyamanannya bersamaku membuat hatinya terbuka. Mudah-mudahan.
Seolah hendak melepaskan beban
berat, ia menghela nafas. "Ya. Dia seusia dengan Ina."
Kutunggu kisah berikutnya.
"Tapi, bertahun-tahun sudah
ia tak kembali. Hanya sekali waktu ia memberi kabar." Ia bercerita dengan
suara serak tanpa mengurangi kecepatannya mengikat benang demi benang.
Aku tak berani mengganggunya
lagi. Apalagi sekilas kulihat bulir bening matanya mengembang saat ia menoleh
ke bingkai foto yang terpajang di dinding.
Aku menatapnya kosong sambil
mengenang kisahku sendiri.
"Sunter'a harganya berapa, Ina?"
Kucoba alihkan pembicaraan. Melihatnya bersedih, seolah melihat ibu sendiri
yang menangis. Mataku ikut berkaca-kaca.
Cukup berhasil rupanya.
Dialihkannya lagi perhatian pada tenun.
"Tergantung pada motif.
Semakin rumit, semakin mahal pula harganya. Juga dilihat dari jenis benang yang
digunakan, seperti sunter'a ini. Dan
pemakainya adalah ata’ kebe'len, para
bangsawan atau pembesar Adonara. Bisa dibilang, ini adalah kain eksklusif.
Jadi, harganya pun lumayan mahal."
*
Aku melangkah dari rumah Ina Lusi dengan gontai. Sepotong kalimat
yang dilontarkannya barusan telah membuat hatiku tak tenang. Sudah bertahun
anaknya tidak pulang. Sebagaimana nurani seorang ibu, tak mampu tergambarkan
seperti apa kerinduan pada buah hati tersayangnya.
“Ia mencintai seorang perempuan,
Ina. Tapi, saya yang hanya buruh
tenun, mana mampu membelikan mahar sesempurna keinginan Arik. Sejak itu, ia
pergi dan belum kembali. Ia bilang akan cari uang untuk membeli gading dan
kambing bertanduk panjang terhunus seperti pedang.” Suara Ina Lusi yang menyayat hati menggores kalbuku.
Aku pergi meninggalkan kampungku
hanya demi mencari Raffa. Arik, panggilan kesayangan putera ina Lusi, pergi
untuk mempersembahkan sebilah gading pada perempuannya. Sementara, Ina Lusi
sendiri sibuk mencarikan biaya agar prosesi pernikahan anaknya nanti berjalan
sempurna. Perjuangan cinta memang begitu ironis.
*
“Adonara, Tanah Mahar Gading
tapi tak pernah lahirkan gajah.” Otakku sibuk, mencoba mengurai maksud kalimat
dalam puisi milik Bara Pattyradja. Dalam pernikahan penduduk Adonara, gading
selalu dipakai sebagai mahar. Anehnya, tempat ini tak pernah menjadi tempat
kehidupan untuk gajah.
Adel datang dan duduk di sampingku.
Aku menoleh padanya.
“Apa yang kau pikirkan?”
tanyanya sambil mengamatiku.
Aku menyeruput kopi susu hangat
dari cangkir. “Seberapa penting gading untuk orang Adonara, Ina?”
“Mengapa tiba-tiba kamu bertanya
tentang gading?” Adel bertanya heran.
Aku lalu menceritakan tentang
kisah pengrajin tenun ikat dan puteranya yang hilang. Induk semangku itu manggut-manggut.
"Gading itu ibarat
sekantung emas kalau di negerimu. Bahkan mungkin lebih nilainya. Memberikan
gading untuk pasangannya adalah kebanggaan seorang lelaki dalam sebuah
pernikahan. Pun begitu, untuk pihak perempuan bila diberi mahar itu."
"Hanya gading sajakah yang
diberikan sebagai mahar?" Aku teringat Arik.
“Sebenarnya tidak juga. Di sini,
umumnya yang memberikan gading adalah pemuda pesisir yang akan menikahi
perempuan pedalaman.” Adel berhenti sejenak. "Bagi kami, tidak penting
berapa pun harganya. Itu adalah tradisi. Di situlah nilai emasnya. Tradisi itu
akan terus kami jaga sepanjang hidup, sampai bergenerasi yang akan datang,
supaya tak punah ditelan masa."
Kutatap Adel dalam-dalam.
“Rafael menanyakanmu.” Adel
mengalihkan topik. “Dia bilang, akan datang kemari.”
“Eh?” Aku terkejut mendengar
info ini. Dadaku nendadak terasa sedikit sesak mengingat pertemuan kami
sebelumnya.
.
Lelaki itu memperhatikanku
lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang hendak dibaca atau didengarnya dariku. Aku
sendiri tak mampu menatapnya. Bola mata itu terlalu kemilau bak permata. Pun
auranya memiliki gravitasi yang teramat kuat. Bahkan Newton saja mungkin tak
mampu mengukurnya.
“Aku tak pernah menyangka kau benar-benar
datang ke Adonara, Sil.”
“Kamu tidak suka?” Ada sedikit
luka tergores kalimatnya di hati ini. Terbersit kembali sebuah sayatan sembilu.
Jangan-jangan, hanya aku sendiri yang mengenang kisah kami dulu. Buktinya, ah
sudahlah… .
Kupejamkan mata untuk meredam
sekelumit nyeri yang tiba-tiba tergores di hati. Untunglah, perih itu masih
sanggup terobati semilir angin Watotena nan menawan. Eksotika alamnya yang
perawan, benar-benar membuatku serasa di surga. Apalagi di sebelahku ada dia.
Kulirik lelaki Adonara yang bertahun hilang secara misterius dari hidupku.
Seakan tak percaya, ia duduk sedekat ini, apalagi di lempeng batu magma yang
sama. Darahku berasa berdeburan, sama seperti dulu. Ia belum banyak berubah; masih
saja cool. ‘Andai saja…,’ kutepiskan rasa itu jauh-jauh.
Kulempar pandangan ke hamparan
pasir putih sepanjang pantai. Bebatuan magma yang condong menghadap laut, begitu
kuat membenteng Nelerereng dan Adonara timur dari terpaan gelombang. Seperti
halnya aku yang setia menunggu dan mencari Raffa, meskipun musim telah berkali
berganti. Hatiku digempur kepedihan.
Dari sudut mata, kulihat lelaki
itu tertunduk memeluk mendung di telaga beningnya.
“Tapi…benarkah kau akan pulang?
Maksudku, ke Jawa?”
Aku mengangguk. Tiba-tiba
sesuatu terlintas di benak. “Kau juga. Pulanglah!”
Ia menoleh kaget padaku.
“Pulang? Ke mana?”
“Sudahlah. Aku tahu kisahmu,
meski tidak terlalu banyak, Rafael Lamahoda.” Kucoba menantang matanya.
Sesaat kami membisu bersama
dalam kecamuk di otak masing-masing. Ia tersenyum getir.
“Dari mana kau tahu aku belum
pulang?”
“Ibumu.” Ingatan membawaku pada
cerita Ina Lusi dan foto seorang pemuda yang tergantung di dinding. “Mengapa
kau tak mau pulang?”
Ia terdiam lagi dan menggigit
bibir.
Diperhatikannya seekor burung
camar yang terbang di angkasa Pantai Watotena. Tak lama, burung itu terbang
merendah, menyentuh permukaan air dengan paruhnya dan terbang lagi, membawa
seekor ikan bekal makan sore. Bersamaan dengan itu, lelaki di sampingku mendesah.
“Aku tak bisa pulang dengan
kehampaan, Sil.”
“Maksudmu?”
“Haruskah aku pulang dengan tak
membawa hasil apa pun untuk orang yang kucintai sepanjang hidup?”
Aku menatap kesenduannya. Kini,
giliranku yang ingin membuka tabir di wajahnya.
“Kau tidak tahu rasa hati
seorang ibu,” gumamku.
.
Mentari senja makin turun.
Semburat jingganya merona di ufuk barat, menambah eksotika bibir Adonara. Sudah
berapa jam kami di sini. Aku berjalan di hampar pasir basah sembari menatap
bola mata langit yang mulai tampak kemerahan. Raffa pun mengiringi langkahku.
“Jadi, seperti inilah rasanya.”
Laki-laki berkulit cokelat gelap itu
memecah suasana. Rambut ikalnya dibiarkan terurai hingga berkibaran
dipermainkan angin.
Aku mengerutkan dahi. “Rasa?
Rasa apa?”
Bukannya menjawab, justru ia
membicarakan hal lain.
“Maafkan aku.” Suaranya
terdengar berat dan menyesal.
“Untuk?” Aku menoleh padanya
semakin tak mengerti. ‘Apa yang sesungguhnya dibicarakannya?’ Sementara,
kulihat ia tengah memandang bentangan laut hijau biru. Buih-buih tampak
mengombak di permukaan yang berkilau terpantul sinar mentari senja. Mereka
seumpama lidah-lidah air berkejaran, berebut menjilati kaki kami yang telanjang
dan menyisakan butiran pasir di sela jari.
“Meninggalkanmu. Dulu,” katanya
lirih sambil tertunduk menatap kaki dan celana jeans hitamnya yang basah.
Seteguk ludah getir bergulir di
kerongkongan, manakala teringat lagi hari-hari di awal kehilangan dirinya.
Meskipun akhirnya aku mampu terbiasa.
“Seharusnya aku memberitahumu
kalau aku tidak akan kembali ke Surabaya. Tapi, sungguh aku tak mampu...untuk
benar-benar pergi.”
Suaranya yang parau makin
terbenam debur ombak.
Aku tak ingin menggalinya lebih
lanjut. Apalagi mengenang luka lama, Telah kulihat siapa dan bagaimana ibunya. Bisa
kulihat juga, tubuh lelaki ini lebih kurus dari yang terakhir kuingat --- saat
ia masih berseragam putih abu-abu. Meskipun tak kupungkiri, ia tampak lebih
dewasa, namun sirat matanya bercerita jauh lebih banyak dari yang dieja oleh
lidahnya. Dari sana, bisa kubayangkan apa yang hendak diungkapkannya.
Di sisi lain, hati ini tak siap
dengan sayatan lain yang akan terlontar dari bibirnya. Ia tak boleh tahu
tentang rasa itu. Rasa yang membawaku datang ke Adonara. Aku juga tak ingin
tahu, mengapa waktu itu ia harus pergi. Aku tak pernah siap menerima kegetiran
sekali lagi.
Aku sudah bertemu lagi
dengannya, sesuai harapanku. Nyatanya, aku akhirnya tahu, bahwa rasaku,
hanyalah impi remaja belaka. Impian yang tertulis di atas pasir yang kemudian
tersapu ombak bernama waktu. Sebuah rasa yang fana dan entah berapa lama lagi
'kan bertengger di hening ini. ‘Perempuan yang hendak dipinangnya’. Aku harus
tahu diri.
"Sil..." ia
memanggilku lirih.
"Ya?" Aku melihat
seberkas keraguan di wajahnya.
“Bisakah kau menunda
kepergianmu?”
Aku tertawa kecil. ‘Maksudmu
untuk melihatmu menikah? Kau kejam sekali padaku, Raffa.’
“Kontrak kerjaku sudah berakhir.
Aku tidak tahu, apa yang membuatku harus bertahan di sini lebih lama lagi.”
Kataku datar. Cukup sukses kuselimuti suasana hati ini.
Ia menatapku meragu, sebelum
kemudian berkata, "mungkin ada.”
“Mungkin ada? Maksudmu?” Aku
bersiap mendengar sarannya. Dulu, sarannya selalu menyihirku. Aku ingin tahu,
apakah hari ini juga begitu?
"Yahhh, jika saja..."
Air mukanya berubah-ubah, seolah sedang menimbang-nimbang, “...kau mau menerima
belis dariku.”
“Belis?” aku mengulang istilah itu tak mengerti.
Ia mengangguk. “Ya. Belis, mahar gading dari Adonara."
Jantungku tercekat. Saat itu
juga langkahku terhenti. Aku menatapnya tak percaya.
“Apakah itu, artinya…” Kalimatku
terputus di tenggorokan.
Sementara, ia terus menatapku
lekat. Terang, ia menunggu jawaban yang akan keluar dari bibirku dengan penuh
harap.
*
Seminggu kemudian...
Panggilan terhadap penumpang
pesawat tujuan Surabaya telah bergema di Bandara El Tari, Kupang. Aku segera
berdiri. Pun Raffa yang sejak tadi menemaniku.
Kuberikan pada Raffa, sebuah
buku diary kumal. Di sana, banyak kuceritakan tentang kisah di masa SMA hingga
hari ini, tentang dirinya. Sebaliknya, diberikannya sebuah senai warna merah dengan motif horisontal berwarna biru padaku. Aku
menerimanya. Cukup tersentuh hatiku manakala kutemukan namaku tertulis dengan
benang emas di sudut kain itu.
“Itu pemberian ina-ku. Beliau bilang sangat
menyayangimu seperti puterinya sendiri.”
“Terima kasih. Katakan padanya,
kalau aku menyayanginya juga, sama seperti ibuku sendiri.”
Ia terdiam. Wajahnya yang air
tenang menyiratkan banyak ungkapan. Dan, aku mengerti apa yang dipikirkannya.
"Maafkan aku." Penuh
haru kupandangi lelaki Melayu-Melanesia itu. Tak sangka, bertahun diri terpisah
darinya, cinta yang terbentang di antara dua waktu itu tak pernah lekang.
Ia mengangguk. "Nantikanku
di biru langitmu, Silvi. Aku pasti datang bersama belis dan sunter'a
kebanggaan Adonara."
"Aku percaya, Ama." Kusunggingkan senyum termanis
yang kupunya. Kutatap janji Ado pada Sedo yang terlukis di sepasang bening
matanya sesaat, sebelum akhirnya kuayunkan kaki meninggalkan tanah Flores yang
penuh kenangan.
--------
Catatan :
Adonara : nama sebuah pulau di Flores Timur, NTT
Kwatek : kain tenun
Ina : panggilan untuk perempuan
sunter'a : kain tenun sutera
ata' kebe'len : bangsawan/pembesar Adonara
arik : adik
ile Boleng : Gunung Ile Boleng, satu-satunya
gunung di Adonara
senai : selendang
(syal)
ama : panggilan untuk laki-laki Adonara
Ado dan Sedo : nama suami-istri yang merupakan nenek
moyang Adonara
--------
Batang,
6 November 2015