Adonara,
Tanah Mahar Gading
Tapi Tak
Pernah Lahirkan Gajah
Oleh : Bara Pattyradja
adonara.
tanah mahar gading
tapi tak
pernah lahirkan
gajah.
waiwerang—witihama
bertabur
bidadari beribu.
bila cinta
yang biru
datang
mengetuk pintu hatimu
sarungkanlah
sebilah gading
adonara.
mata fajar bianglala
sorga yang
terapung antara
solor dan
lomblen
ketika hari
berangsur malam
ketika
suara-suara
mulai
membisu
di kutub
pulau
suluh di
pucuk-pucuk layar
samudera
yang kelam
menjelma
riak
penuh cahaya
aku tak
sedang berziarah
disini.
telah
kulalui upacara
demi
upacara.
dan di
telapak kaki ibu
aku temukan
arti rumah
maka
kulupakan nama-nama
kulupakan
kerling mata nina
yang
menghadangku
di teba-teba
jalan
kulupakan
harum parfum kota-kota
yang gaduh
di rahimmu
yang purba
padang-padang
terbuka
hutan hujan
kemarau
meranggas
berpuluh-puluh
waktu
adonara
tak ada mal
dan
supermarket disini
tak ada
sirkus politik
dan kebun
binatang
ada hanya
sebait teluh
dan mantra
menyihir
siang-malamku
jadi seribu
puisi
adonara
berabad
kusangsikan riwayatmu
kusangsikan
bahwa di tanahmu
darah adalah
air
bahwa perang
adalah keberanian
keberanian
itu
bukan parang
dan tombak
yang kau
acung-acungkan
tapi laut
tuak manismu
yang kuteguk
bagai sajak
di
gunung-gunung
sebab hidup
bermula dari
kata
berakhir
pada kata
tapi mengapa
kau asah
belati?
dan matamu
sengit
seperti jagal?
adonara
bukan tangan
kebal kelewang
yang
menyentuh hatiku
tapi relung
mata Ina
mata Ina
yang tabah
mengayuh peluh
di los-los
pasar
tanpa kelu
Ia terus berjalan
menyangga
hidup
yang kuyup
sambil
mengingat
wajah Ama,
wajahmu
yang pecah
di
pucuk-pucuk bandar
adonara
keberanian
itu
bukan parang
dan tombak
yang kau
acung-acungkan
tapi laut
tuak manismu
yang kuteguk
bagai sajak
di gunung-gunung
keberanian
itu
seperti
wanita
di ranum
dadanya
setiap
laki-laki
mengibas
sayap-
sayap
takdirnya
sumber gambar : google
